Showing posts with label Sistem Hidroponik. Show all posts
Showing posts with label Sistem Hidroponik. Show all posts

Saturday, May 14, 2016

Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Teknik Pada Sistem Hidroponik

Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Teknik Pada Sistem Hidroponik

 

Nutrient film technique (NFT)

Nutrient Film Technique (NFT)
Nutrient Film Technique
Nutrient film technique (NFT) merupakan salah satu tipe spesial dalam sistem hidroponik yang dikembangkan pertama kali oleh Dr. A.J Cooper di Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton, Inggris pada akhir tahun 1960-an dan berkembang pada awal 1970-an secara komersial. Konsep dasar NFT ini adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen.

Tanaman tumbuh dalam lapisan polyethylene dengan akar tanaman terendam dalam air yang berisi larutan nutrisi yang disirkulasikan secara terus menerus dengan pompa. Daerah perakaran dalam larutan nutrisi dapat berkembang dan tumbuh dalam larutan nutrisi yang dangkal sehingga bagian atas akar tanaman berada di permukaan antara larutan nutrisi dan styrofoam, adanya bagian akar dalam udara ini memungkinkan oksigen masih bisa terpenuhi dan mencukupi untuk pertumbuhan secara normal.

Beberapa keuntungan pemakaian NFT antara lain :
dapat memudahkan pengendalian daerah perakaran tanaman, kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah, keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman, tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang pendek, sangat baik untuk pelaksanaan penelitian dan eksperimen dengan variabel yang dapat terkontrol dan memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan high planting density. Namun NFT mempunyai beberapa kelemahan seperti investasi dan biaya perawatan yang mahal, sangat tergantung terhadap energi listrik dan penyakit yang menjangkiti tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.

Pada sistem NFT, kebutuhan dasar yang harus terpenuhi adalah :
Bed (talang), tangki penampung dan pompa. Bed NFT di beberapa negara maju sudah diproduksi secara massal dan disediakan oleh beberapa perusahaan supplier greenhouse dan pertanian, di Jepang terbuat dari styrofoam, namun di Indonesia belum diproduksi sehingga banyak petani Indonesia memakai talang rumah tangga (lebar 13-17 cm dan panjang 4 meter). Tangki penampung dapat memanfaatkan tempat atau tandon air. Pompa berfungsi untuk mengalirkan larutan nutrisi dari tangki penampung ke bed NFT dengan bantuan jaringan atau selang distribusi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam NFT adalah : kemiringan talang (1-5%) untuk pengaliran larutan nutrisi,

kecepatan aliran masuk tidak boleh terlalu cepat (dapat diatur oleh pembukaan kran berkisar 0.3-0.75 L/menit) dan lebar talang yang memadai untuk menghindari terbendungnya larutan nutrisi
NFT merupakan alat hidroponik sederhana yang bekerja mengalirkan air, oksigen dan nutrisi secara terus-menerus dengan ketebalan arus sekitar 2-3 mm. Tanaman disangga dengan sedemikian rupa sehingga akar tanaman menyentuh nutrisi yang diberikan. Alat dibuat miring dengan salah satu sisi lebih tinggi dari sisi lainnya yaitu sebesar 5% dari panjang alat agar arus dapat mengalir dengan lancar.


Air dan nutrisi yang diberikan tidak akan terbuang percuma karena aliran airnya akan masuk ke bak penampung yang ada dibawahnya setelah itu dipompa kembali ke atas dan dialirkan lagi ke akar tanaman.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Talang air 4. Sterofoam
2. Pompa akuarium 5. Busa
3. Pipa PVC 6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Biaya yang dperlukan relatif murah.

Kekurangan alat:
1. Jika salah satu tanaman terserang penyakit maka satu talang tanaman akan terserang juga, bahkan bisa dalam 1 alat semua menjadi tertular.
2. Alat ini sangat bergantung pada listrik, jika tidak ada aliran listrik maka alat ini tidak bisa bekerja

Wick System

Wick System merupakan alat yang sangat sederhana karena pada prinsipnya hanya membutuhkan sumbu yang menghubungkan antara nutrisi dan media tanam. Air dan nutrisi akan dapat sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air melalui perantara sumbu.
Media tanam akan terus-menerus basah oleh air dan nutrisi yang diberikan disekitar akar tanaman.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Media tanam
2. Sumbu
3. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Biaya alat yang murah.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Tidak tergantung aliran listrik.


Kekurangan alat:
1. Air dan nutrisi yang diberikan tidak akan dapat kembali lagi sehingga lebih boros.
2. Banyaknya jumlah air yang diberikan akan sedikit susah diatur.


Floating / Rakit Apung 

Sistem Floating / Rakit Apung
Floating Sistem

Floating hidroponic system (FHS) merupakan suatu budidaya tanaman (khususnya sayuran) dengan cara menanamkan /menancapkan tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung diatas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Jensen (1980) di Arizona dan Massantini (1976) di Italia.

Pada sistem ini larutan nutrisi tidak disirkulasikan, namun dibiarkan pada bak penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan nutrisi dalam dasar kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sistem ini mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja).

Sistem Rak Susun
Tanaman ditancapkan pada lubang dalam styrofoam dengan bantuan busa (agar tanaman tetap tegak) serta ditambahkan penyangga tanaman dengan tali. Lapisan styrofom digunakan sebagai penjepit, isolator panas dan untuk mempertahankan tanaman agar tetap terapung dalam larutan nutrisi. Agar pemakaian lapisan styrofoam tahan lama biasanya dilapisi oleh plastik mulsa. Dalam gambar juga ditunjukkan adanya bak larutan nutrisi dengan penyangganya, biasanya bak penampung ini mempunyai kedalaman antara 10-20 cm dengan kedalaman larutan nutrisi antara 6-10 cm.

Hal ini ditujukan agar oksigen dalam udara masih terdapat di bawah permukaan styrofoam. Untuk otomatisasi dalam FHS tidak berbeda jauh dengan cara untuk pot culture system.
Floating system merupakan alat yang paling sederhana karena hanya menggunakan prinsip penggenangan. Akar tanaman diberi genangan air dan nutrisi secara terus-menerus. Untuk kebutuhan oksigen tanaman mendapatkannya melalui airstone yang diletakkan didalam air.Atau bisa juga dengan memberikan pompa Aquarium sehingga air dan larutan nutrisi bisa terus bersirkulasi.
Air dan nutrisi yang diberikan akan langsung mengenai akar tanaman secara terus-menerus sehingga tanaman dapat menyerapnya setiap saat.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Sterofoam
2. Busa
3. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Membutuhkan biaya yang cukup murah.

Kekurangan alat:
1. Oksigen akan susah didapatkan tanaman tanpa bantuan alat (airstone).
2. Akar tanaman akan lebih rentan terjadi pembusukan.

Ebb and Flow

Ebb and flow atau yang biasa dikenal dengan sistem pasang surut ini merupakan salah satu alat hidroponik yang unik karena prinsip kerjanya yaitu tanaman mendapatkan air, oksigen dan nutrisi melalui pompaan dari bak penampung yang dipompa melewati media kemudian membasahi akar tanaman (pasang), kemudian selang beberapa waktu air bersama nutrisi akan turun (surut) kembali melewati media menuju bak penampungan.
Waktu pasang dan surut dapat diatur menggunakan timer sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut, jadi tanaman tidak akan tergenang atau kekurangan air.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Media tanam 4. Po t/ Wadah tanaman
2. Pompa akuarium 5. Timer
3. Pipa PVC 6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Pertukaran oksigen lebih baik karena terbawa air pasang dan surut.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.

Kekurangan alat:
1. Biaya alat yang agak mahal.
2. Tergantung kepada aliran listrik.
3. Kualitas nutrisi yang sudah dipompakan berkali-kali tidak akan sebagus awalnya.

Drip Irigation

Drip Irigation Sistem

Drip irigation merupakan salah satu jenis alat hidroponik yang sederhana karena pada prinsipnya hanya memberikan air dan nutrisi dalam bentuk tetesan yang menetes secara terus-menerus sepanjang waktu. Tetesan diarahkan tepat pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan.

Tanaman mendapatkan nutrisi setiap saat sesuai kebutuhannya karena tetesan nutrisi dapat diatur sehingga tidak akan menggenangi tanaman. Alat ini pada prinsipnya sama saja dengan menyiram tanaman namun dilakukan secara otomatis, terus-menerus dan sesuai dosis.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Selang air 4. Pot / polybag
2. Pompa akuarium 5. Media tanam
3. Jarum suntik 6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai airdan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi karena diberikan sedikit demi sedikit.
4. Biaya yang dperlukan relatif murah.

Kekurangan alat:
1. Oksigen akan susah didapat tanaman jika media terlalu padat.
2. Penggunaan bak penampung tidak akan terlalu menghemat air dan nutrisi karena lebih banyak hilang terserap tanaman, tertahan media atau penguapan.

Aeroponik

Aeroponik System

Aeroponik termasuk jenis alat yang cukup mahal karena membutuhkan bahan-bahan yang mahal, namun prinsip kerjanya sederhana yaitu air dan nutrisi yang akan diserap tanaman diberikan dalam bentuk butiran kecil atau kabut. Pengkabutan ini berasal dari pompa dari bak penampungan yang disemprotkan menggunakan nozzel sehingga nutrisi yang diberikan akan lebih cepat terserap akar tanaman.

Penyemprotan dilakukan berdasarkan durasi waktu yang diatur menggunakan timer. Penyemprotan dilakukan ke bagian akar tanaman yang sengaja digantung. Air dan nutrisi yang telah disemprot akan masuk menuju bak penampungan untuk disemprotkan kembali.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Plastik 4. Sterofoam
2. Pompa akuarium 5. Nozzel
3. Pipa PVC 6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Nutrisi lebih mudah diserap tanaman karena diberikan dalam ukuran kecil.

Kekurangan alat:
1. Membutuhkan biaya yang cukup mahal.
2. Alat ini sangat bergantung pada listrik, jika tidak ada aliran listrik maka alat ini tidak bisa bekerja.

Sumber Artikel : Paktani Hidrofarm

Read more

Monday, May 9, 2016

Cara Membuat Hidroponik Model System Tetes (Drip Irrigation)

Cara Membuat Hidroponik Model System Tetes (Drip Irrigation)


Membuat hidroponik model system tetes (Drip Irrigation) pada prinsipnya yaitu mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang menetes secara terus menerus sepanjang waktu. Tetesan tersebut diarahkan pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan. Tetetan larutan nutrisi tersebut dapat diatur agar tidak menggenangi tanaman. System tetes ini pada prinsipnya sama saja dengan menyiram tanaman tetapi dilakukan secara otomatis, terus menerus dan sesuai takaran nutrisinya.

Berikut ini cara membuat hidroponik system tetes :

Peralatan yang dibutuhkan

1. Dripper Set (Dripper, Nipper dan Microtube)
2. Bak Penampungan Nutrisi
3. Pompa
4. Pipa Nutrisi (Polypipe)
5. Polybag
6. Alat Timer

Cara Merakit peralatan diatas

1. Persiapkan Dripper Set (Dripper, Nipper dan Microtube)

2. Siapkan Bak penampungan nutrisi dan pompa airnya, buat lubang untuk aliran air nutrisi dari pompa dan untuk buangan udara.

Hidroponik Model System Tetes

3. Pasang pipa nutrisi (Polypipe) di dekat polybag, panjang pipa/polypipe dan kekuatan pompa disesuaikan dengan kebutuhan.

Hidroponik Model System Tetes

4. Setelah semua terpadang dengan baik, lakukan uji coba (Test Fertigation dengan air biasa), tempatkan gelas plastik di masing-masing ujung dripper, jalankan pompa dan ukur keluaran air selama 5 menit untuk mendapatkan 100 ml, atur sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Hidroponik Model System Tetes

5. Setelah test aliran nutrisi, kemudian test pewaktu (timer), kapan dan berapa lama proses penetesannya.

Hidroponik Model System Tetes

6. Sekarang Systim tetes (Drip Irrigation) sudah siap digunakan. Periksa selalu kebutuhan nutrisinya, peralatan dan aliran nutrisi tersebut, sehingga jika terjadi kendala dapat langsung teratasi.

Hidroponik Model System Tetes

Read more

Saturday, May 7, 2016

Sistem Wick atau Sumbu Hidroponik

Sistem Wick atau Sumbu Hidroponik 

Sistem Wick atau Sumbu Hidroponik adalah sistem hidroponik yang paling sederhana dalam bercocok tanam dengan hidroponik. Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan tentang sistem hidroponik, Sistem Wick atau Sistem Sumbu ini dengan memanfaatkan sumbu untuk mengalirkan air larutan nutrisi ke atas sampai mencapai media tanam dan akar tanaman.

Perkembangannya Sistem Wick atau Sistem Sumbu ini sangatlah banyak variasi dan modifikasinya berikut adalah beberapa contoh dibawah ini :

1. Hidroponik dengan bekas botol minuman mineral
Sistem Wick ini dengan memanfaatkan barang bekas dari botol air minum mineral atau botol plastik bekas sebagai tempat tanam berhidroponik. Untuk pemula kita akan memulai berhidroponik dengan bahan air minum mineral ini agar lebih mudah untuk belajar hidroponik


Hidroponik dengan bekas botol minuman mineral

2. Hidroponik dengan menggunakan bekas kaleng cat
Kaleng plastik bekas cat atau kaleng bekas susu anak juga bisa dimanfaatkan sebagai tanam hidroponik dengan Sistem Wick atau Sistem Sumbu.


Hidroponik dengan menggunakan bekas kaleng cat


3. Hidroponik dengan Menggunakan Pipa Paralon
Berhidroponik dengan menggunakan Pipa Paralon yang ditutup samping kanan atau kirinya. Agar larutan nutrisi tidak tumpah.


Hidroponik dengan Menggunakan Pipa Paralon

4. Memodifikasi Sistem NFT dengan Sistem Wick
Sistem hidroponik ini dengan memodifikasi sedikit dari sistem NFT yang ada dengan sumbu, yang mana tanaman tersebut tidak langsung mengenai larutan nutrisi akan tetapi dibantu sumbu juga untuk menaikkan larutan nutrisi ke akar tanaman.

Read more

Friday, May 6, 2016

Sistem Hidroponik

Sistem Hidroponik

Setelah kita belajar mengenai Media Tanam dan Nutrisi untuk menanam hidroponik, pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari sistem tanam hidroponik yang biasa dipergunakan dalam pertanian hidroponik dalam sekala hobby maupun pertanian sekala besar. Didalam bercocok tanam dengan menggunakan sistem hidroponik pada umumnya dikenal ada 8 sistem, yaitu akan kita perkenalkan satu persatu dibawah ini :

1. Sistem Statis atau Passive Technigue

Sistem ini merupakan saudara dari sistem wick (sistem sumbu) perbedaannya untuk sistem statis ini air larutan nutrisi tidak bersirkulasi atau naik kemedia tanam karena di sistem ini akar tanaman terendam langsung kelarutan nutrisi, Untuk kebutuhan oksigen bisa dibantu melalu aerator aquarium atau ditambahkan sedotan untuk meniupkan udara kedalam larutan. Pada sistem statis ini biasa digunakan untuk skala hobby, dan cocok untuk tanaman hias maupun tanaman sayuran yang berumur pendek seperti selada dan sawi.

Sistem Statis atau Passive Technigue

2. Sistem Wick atau Sistem Sumbu

Sistem Wick atau Sistem Sumbu ini memanfaatkan sumbu untuk mengalirkan air larutan nutrisi ke atas sampai mencapai media tanam dan akar tanaman. Media yang digunakan sebagai sumbu biasanya menggunakan kain flanel. Pada kedua sistem sederhana ini (sistem statis dan sistem sumbu) dapat dibuat dengan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi di rumah.

Sistem Wick atau Sistem Sumbu

3. Sistem Run to Waste atau Sistem Siram

Pada sistem ini sebenarnya sama dengan sistem tanam konvensional yang harus disiram setiap hari. Untuk hidroponik yang menggunakan sistem ini air nutrisi yang disiram akan membasahi media atau tanaman, air nutrisi yang telah disiramkan tidak dipergunakan lagi melainkan dibuang. Penyiramann dapat dilakukan dengan manual atau dengan bantuan pompa air yang terpasang dengan timer listrik.

Sistem Run to Waste atau Sistem Siram

4. Sistem Water Culture atau Rakit Apung

Sistem Water Culture atau Rakit Apung merupakan sistem tanam aktif yang paling sederhana, dengan memanfaatkan media styroform untuk mengapungkan tanamn diatas air larutan nutrisi yang dibantu dengan pompa udara yang akan menyuplai oksigen bagi akar tanaman.

Sistem Water Culture atau Rakit Apung

5. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

Sistem NFT ini yang paling populer dipakai di Indonesia, Sistem dengan NFT ini akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen. Sistem NFT ini dirancang dengan kemiringan tertentu agar air mengalir hingga dapat bersirkulasi. Sistem ini biasa dibantu dengan pompa air untuk mengalirkan air larutan nutrisi ke bagian paling atas. Karena kebutuhan akan listrik yang wajib, banyak petani yang melakukan sedikit modifikasi dengan membuat sistem tanggul, agar ketika listrik mati nutrisi masih dapat di supply karena air masih sedikit menggenang.

Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

6. Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow)

Pada Sistem Pasang Surut ini biasanya digunakan untuk tanaman didalam pot seperti krisan dan aster. Pot diletakan dalam bak penampungan, untuk kemudian dialiri larutan nutrisi hingga ketinggian tertentu sampai akar tanaman terendam. Dan setelah terendam dalam waktu tertentu larutan nutrisi akan di surutkan kembali agar akar tanaman tidak jenuh air.

Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow)

7. Sistem Fertigasi (Irigasi Tetes)

Sistem Fertigasi ini merupakan salah satu sistem yang sering dipakai dalam sekala industri. Sistem ini dilakukan dengan memberikan air dan larutan nutrisi sedikit demi sedikit secara berkelanjutan sepanjang hari. Setetes demi setetes, untuk menjaga tanaman mendapatkan nutrisi dan air yang cukup.

Sistem Fertigasi (Irigasi Tetes)

8. Sistem Aeroponik

Sistem Aeroponik juga merupakan pilihan sistem hidroponik yang digunakan dalam sekala industri, di Indonesia tidak sedikit pula yang sudah mempraktekannya. Hidroponik dengan sistem ini adalah cara bercocok tanam dimana akar tanaman menggantung diudara  tanpa media kemudian nutrisi akan di seprotkan melalui sprayer ke akar tersebut.

Sistem Aeroponik Hidroponik

Demikianlah pengenalan sistem yang telah digunakan dalam bercocok tanam hidroponik. Semoga di pembahasan kita kali ini dapat bermanfaat bagi anda semua.


Read more